
Kontibusi untuk lingkungan untuk mengakar.
Dokumentasi dari arsip Mardi Al Anhar: Foto Bersama dengan pemuda pemudi P3Atb,2017.
Bagi Kamarkost, seni tidak berhenti pada ruang pamer, karya, atau peristiwa artistik yang hanya dikonsumsi oleh lingkungan seni. Sejak awal, Kamarkost Creative Home berangkat dari gagasan tentang ruang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari—ruang di mana seni dapat bertemu dengan masyarakat, berbicara dengan persoalan kampung, dan tumbuh melalui hubungan yang nyata dengan lingkungan sekitarnya.
Dari gagasan tersebut lahir TUAK: Turun Aksi. Turun Aksi menjadi salah satu bentuk konkret dari visi Kamarkost untuk menghadirkan apresiasi seni sedekat mungkin dengan masyarakat. Kata turun menjadi penting: bukan hanya turun secara fisik ke ruang-ruang publik, tetapi juga turun dari posisi seni yang terlalu eksklusif menuju ruang kehidupan bersama. Sementara aksi menegaskan bahwa gagasan tidak cukup berhenti sebagai wacana. Ia perlu dilakukan, dicoba, dan dirasakan bersama.
Dalam praktiknya, TUAK mempertemukan kerja kesenian dengan kegiatan kepemudaan dan kehidupan kampung. Kamarkost Creative Home, melalui Mardi Al Anhar, terlibat sebagai kontributor dalam organisasi kepemudaan melalui Departemen Kesenian Pemuda P3ATB. Keterlibatan ini menjadi ruang untuk membawa pengalaman dan strategi kreatif ke dalam lingkungan kepemudaan, sekaligus membuka kemungkinan bahwa kesenian dapat menjadi bagian dari cara sebuah kampung menghidupkan dirinya sendiri.

Dokumentasi dari arsip Mardi Al Anhar: Foto Bersama dengan pemuda pemudi P3Atb,2017.
Namun TUAK tidak dikerjakan oleh Mardi seorang diri. Semangat kolektif yang menjadi bagian dari tubuh Kamarkost turut dibawa ke dalam praktik ini. Anisa Nabila Khairo, Mia Aulia, Aweng, ADX, dan Ulung terlibat sebagai bagian dari kawan-kawan Kamarkost yang ikut turun dalam proses. Keterlibatan mereka memperlihatkan bahwa Kamarkost bukan sekadar sebuah nama atau tempat, melainkan jaringan pertemanan dan praktik kreatif yang dapat bergerak bersama ketika berhadapan dengan persoalan nyata di lingkungan.
TUAK juga membuka diri terhadap kolaborasi di luar lingkar Kamarkost. Dalam salah satu praktiknya, Kamarkost mengundang Dona, seorang kawan kreatif yang aktif mengembangkan karya seni berbasis craft. Pertemuan ini menjadi penting karena memperluas kemungkinan pengolahan material. Keahlian dan pengalaman Dona dalam melihat benda, material, dan kerajinan kemudian bertemu dengan persoalan yang ditemukan di lapangan: sampah pantai.

Dokumentasi dari arsip Mardi Al Anhar: Foto Bersama dengan pemuda pemudi P3Atb,2017.
Kegiatan dimulai dengan sesuatu yang sangat sederhana: turun ke pantai dan membersihkannya bersama-sama.
Pemuda dan anak-anak sekitar dilibatkan dalam proses tersebut. Mereka tidak hanya ditempatkan sebagai penonton atau penerima kegiatan, tetapi menjadi bagian dari proses sejak awal. Sampah dikumpulkan bersama, dipilah, dibawa kembali, kemudian dilihat bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai material yang masih mungkin diolah.
Di sinilah praktik seni mulai bekerja sebagai metode.
Material yang ditemukan di pantai kemudian masuk ke proses eksperimentasi bersama. Kawan-kawan Kamarkost, Dona, pemuda, dan anak-anak sekitar mencoba mengolah kembali sampah tersebut menjadi berbagai bentuk kreatif. Sebagian material digunakan sebagai bahan karya, sebagian menjadi elemen dekorasi, dan sebagian lainnya menjadi produk kreatif.
Proses ini tidak diarahkan untuk menghasilkan sebuah karya yang sempurna. Justru proses mencoba, gagal, mengubah bentuk, menemukan kemungkinan, dan bekerja bersama menjadi bagian penting dari kegiatan. Anak-anak dan pemuda tidak hanya belajar membuat benda, tetapi juga mengalami perubahan cara pandang terhadap benda yang sebelumnya dianggap sebagai sampah.
Apa yang tadinya berada di luar perhatian kemudian menjadi sesuatu yang diperhatikan.
Apa yang dianggap tidak berguna kemudian dicoba untuk diberi kemungkinan baru.

Dan apa yang biasanya dikerjakan sendiri kemudian dikerjakan bersama.
Dokumentasi dari arsip Mardi Al Anhar: Foto Bersama ketua pemuda, pak rt dengan pemuda pemudi P3Atb,2017.

Setelah proses pengolahan selesai, hasilnya tidak berhenti sebagai pengalaman internal. Material dan karya yang dihasilkan kemudian dipresentasikan kepada publik. Presentasi ini menjadi tahap penting dalam TUAK karena memperlihatkan kepada masyarakat bahwa kegiatan yang dimulai dari persoalan sederhana di lingkungan dapat berkembang menjadi proses kreatif yang dapat dibagikan kembali.
Dengan demikian, TUAK membentuk sebuah rangkaian yang sederhana tetapi memiliki arti:
datang ke lingkungan, melihat persoalan, turun bersama, mengolahnya, lalu mengembalikannya kepada publik sebagai pengalaman dan pengetahuan bersama.
Agenda kampung seperti 17 Agustus, Sumpah Pemuda, dan kegiatan selama bulan suci Ramadan juga menjadi ruang bagi strategi kreatif ini untuk terus bergerak. Perayaan tidak hanya dipandang sebagai kalender tahunan yang harus dilewati, tetapi sebagai momentum untuk mempertemukan warga, terutama generasi muda, dalam pengalaman bersama.

Dokumentasi dari arsip Mardi Al Anhar: Foto Bersama kamarkost.ch dengan pemuda pemudi P3Atb,2019.

Dalam konteks tersebut, kesenian tidak ditempatkan sebagai dekorasi tambahan dari sebuah acara. Kesenian menjadi salah satu cara untuk membangun keterlibatan. Pemuda diajak untuk menemukan bentuk ekspresi, bekerja bersama, mengorganisasi kegiatan, membuat sesuatu, dan mengambil bagian dalam kehidupan kampung.
Hal yang sama terlihat dalam aksi bersih pantai. Kegiatan lingkungan tidak berhenti pada aktivitas membersihkan. Ia dilanjutkan dengan proses kreatif, pendidikan informal, eksperimen material, dan presentasi publik. Ada kesinambungan antara tindakan menjaga lingkungan dengan tindakan menciptakan sesuatu.
Bagi Kamarkost, pengalaman tersebut memperluas pengertian tentang praktik seni. Seni tidak selalu harus dimulai dari studio, berakhir di galeri, dan kemudian dilihat sebagai karya. Ia dapat dimulai dari pantai yang penuh sampah, dari anak-anak yang ingin membuat sesuatu, dari pemuda yang ingin menghidupkan kampung, dari pertemanan antarpraktisi, atau dari material sederhana yang ditemukan di sekitar kita.

Dokumentasi dari arsip Mardi Al Anhar: Foto Bersama kamarkost.ch dengan pemuda pemudi P3Atb,2019.
TUAK adalah upaya untuk mengembalikan seni kepada pengalaman hidup.
Ia mempertemukan seniman, pemuda, anak-anak, lingkungan, material, dan masyarakat dalam satu proses yang saling memengaruhi. Dalam proses itu, batas antara siapa yang membuat karya dan siapa yang melihat karya menjadi lebih cair. Orang-orang yang awalnya datang untuk membersihkan pantai dapat berakhir menjadi pembuat. Anak-anak yang awalnya hanya mengikuti kegiatan dapat menemukan cara mereka sendiri dalam mengolah material. Pemuda yang terlibat dalam organisasi dapat menemukan strategi kreatif untuk mengaktifkan lingkungannya.
Dan seniman sendiri belajar bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan melalui karya yang berdiri sendiri.
Kadang karya justru muncul sebagai akibat dari sebuah tindakan bersama.
Karena itu, bagi Kamarkost, karya bukan selalu tujuan akhir. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi di sepanjang proses: bagaimana orang bertemu, bagaimana perhatian terbentuk, bagaimana sebuah persoalan dibaca kembali, dan bagaimana sesuatu yang dianggap biasa dapat membuka kemungkinan baru.
TUAK menjadi salah satu cara Kamarkost untuk menguji gagasan tersebut.
Turun. Bertemu. Mengolah. Mengembalikan.
Sebuah praktik kecil yang berangkat dari kampung, tetapi sekaligus menjadi cara untuk mempertanyakan kembali posisi seni di tengah masyarakat.

Dokumentasi dari arsip Mardi Al Anhar: performance art Bersama kamarkost.ch dengan pemuda pemudi P3Atb,2017.