Begundal Rupa Crew: street art, performance dan intervensi ruang kampus

Dokumentasi peristiwa demo ISI Padangpanjang, di foto oleh Panji Greivia, 2013
Salah satu peristiwa paling penting dalam perjalanan Begundal Rupa terjadi pada 2013 melalui aksi demonstrasi mahasiswa yang kemudian berujung pada tuntutan penurunan Rektor ISI Padangpanjang. Peristiwa ini pada awalnya bukan persoalan Begundal Rupa. Aksi tersebut bermula dari tuntutan mahasiswa Jurusan Karawitan mengenai ruang dan kepentingan jurusan mereka. Demonstrasi berlangsung sekitar satu minggu di depan gedung rektorat. Dalam perkembangannya, tuntutan tersebut berhadapan dengan ancaman terhadap mahasiswa, termasuk ancaman drop out apabila mahasiswa tidak kembali mengikuti perkuliahan.
Selama hampir satu minggu, mahasiswa dari berbagai lingkungan di sekitar kampus menyaksikan demonstrasi tersebut. Posisi rektorat yang berdekatan dengan tempat tongkrongan Begundal Rupa membuat kelompok ini menjadi saksi langsung dari peristiwa tersebut. Bagi para anggota Begundal Rupa, demonstrasi itu pada awalnya bahkan memiliki sisi yang menghibur. Setiap hari berlangsung pertunjukan musik tradisional dari mahasiswa Karawitan—tambua, talempong, dan berbagai bentuk permainan musik lainnya—di ruang terbuka di depan rektorat. Lapangan kampus secara tidak langsung berubah menjadi semacam panggung pertunjukan.
Namun suasana berubah ketika aksi memasuki titik konfrontasi. Mahasiswa berada dalam situasi antara dipukul mundur atau kembali maju. Pada saat itu muncul kesadaran di dalam Begundal Rupa bahwa persoalan tersebut tidak lagi hanya menyangkut satu jurusan. Di mata mereka, persoalan kepemimpinan kampus memiliki dampak yang lebih luas terhadap kehidupan mahasiswa, termasuk persoalan penggunaan ruang pada malam hari, ruang mural, dan kebebasan berekspresi.

Dokumentasi karya di ISI Padangpanjang, foto dari arsip Mardi Al Anhar
Begundal Rupa sendiri telah lama memiliki posisi yang problematis di dalam lingkungan kampus. Aktivitas mural dan street art membuat kelompok ini kerap dipandang sebagai kelompok vandalisme yang meresahkan. Anggota-anggotanya dicari oleh satpam, dipantau oleh pihak kemahasiswaan, dan menjadi perhatian sejumlah dosen. Dalam situasi tersebut, keberadaan Begundal Rupa memang sudah menjadi semacam gangguan terhadap keteraturan visual dan sosial kampus. Dinding, ruang publik, dan aturan mengenai penggunaan ruang menjadi wilayah yang terus dinegosiasikan.
Ketika situasi demonstrasi semakin memanas, Mardi Al Anhar—yang dalam praktik street art dikenal sebagai DXX—memutuskan untuk bergabung ke dalam kerumunan. Responsnya sangat sederhana: lawan. Namun Begundal Rupa tidak datang dengan membawa tuntutan baru. Mereka memilih untuk bergabung dengan satu syarat: tidak ada tuntutan lain selain tuntutan yang sama, yaitu turunkan rektor.
Keterlibatan Begundal Rupa kemudian memperluas aksi menjadi peristiwa lintas jurusan. Mahasiswa dari Tari, Film, Teater, Kriya, Musik, dan bidang lainnya mulai terlibat. Persoalan yang sebelumnya berangkat dari kepentingan satu jurusan berubah menjadi persoalan bersama mengenai bagaimana kampus dikelola dan bagaimana mahasiswa diperlakukan.
Pada saat yang sama, berbagai kondisi fisik kampus menjadi bagian dari pembicaraan mahasiswa: bangunan yang mangkrak, ketimpangan fasilitas antarkelompok studi, serta bangunan baru yang dianggap tidak kokoh. Temuan-temuan tersebut kemudian melahirkan kecurigaan dan pertanyaan mengenai pengelolaan pembangunan kampus. Situasi tersebut memperkuat dorongan agar tuntutan tidak lagi berhenti pada persoalan satu jurusan.

Dokumentasi peristiwa demo ISI Padangpanjang, di foto oleh Panji Greivia, 2013
Para Begundal menyiapkan lima jerigen bekas cat printing, cat semprot, dan cat tembok. Satu orang diikat pada tiang bendera sebagai bagian dari aksi performance. Cat dimasukkan ke dalam plastik dan dilemparkan ke arah gedung rektorat. Dalam sekejap, gedung rektorat berubah menjadi sasaran intervensi visual. Ruang demonstrasi berubah menjadi semacam parade seni: penari piring, monolog teater, musik, performance, instalasi, mural, dan berbagai bentuk ekspresi lainnya muncul dalam satu ruang.
Yang menarik dari peristiwa ini adalah hilangnya batas antara demonstrasi dan pertunjukan. Seni tidak hadir sebagai dekorasi bagi aksi politik, tetapi menjadi cara mahasiswa mengambil alih ruang dan membuat tuntutan mereka terlihat, terdengar, dan dirasakan secara langsung.

Dokumentasi peristiwa demo ISI Padangpanjang, di foto oleh Panji Greivia, 2013
Dalam konteks ini, aksi tersebut dapat dilihat sebagai salah satu proyek penting Begundal Rupa karena memperlihatkan bagaimana street art berkembang dari intervensi visual menjadi praktik yang lebih performatif dan situasional. Dinding dan cat tidak lagi hanya menjadi medium membuat mural, tetapi menjadi perangkat untuk mengubah situasi sosial. Ruang kampus tidak lagi diperlakukan sebagai latar, tetapi sebagai material artistik yang dapat diintervensi.
DXX kemudian menjadi salah satu orang yang dicari dan dimintai pertanggungjawaban atas peristiwa tersebut. Ia dipanggil oleh dosen, berhadapan dengan dekan, dan menjalani dua hari yang penuh tekanan setelah aksi berlangsung. Namun aksi itu sendiri relatif singkat, sekitar dua hari, dan berakhir dengan pernyataan pengunduran diri rektor di hadapan mahasiswa Padangpanjang.
Bagi Mardi Al Anhar, pengalaman tersebut menjadi salah satu titik penting dalam memahami kekuatan intervensi artistik di ruang publik. Ia memperlihatkan bahwa street art tidak harus berhenti pada produksi gambar di dinding. Ia dapat menjadi cara membaca situasi, membangun solidaritas, mengganggu keteraturan ruang, dan menciptakan peristiwa yang mempertemukan seni dengan persoalan nyata di sekitarnya.

Dokumentasi peristiwa demo ISI Padangpanjang, di foto oleh Panji Greivia, 2013
Peristiwa 2013 tersebut juga memperjelas posisi Begundal Rupa sebagai kelompok yang tidak hanya membuat karya di ruang publik, tetapi menggunakan ruang publik sebagai tempat berlangsungnya kehidupan, konflik, permainan, dan ekspresi. Dari pengalaman inilah Mardi semakin memahami bahwa ruang bukan sekadar tempat untuk meletakkan karya. Ruang dapat menjadi medium, situasi dapat menjadi material, dan tindakan kolektif dapat menjadi bagian dari praktik artistik.
Dalam perjalanan Mardi, pengalaman bersama Begundal Rupa kemudian menjadi salah satu dasar penting bagi pergeseran praktiknya: dari street art sebagai produksi visual menuju pemahaman yang lebih luas mengenai intervensi, performance, ruang, partisipasi, dan situasi. Pengalaman tersebut kelak bertemu dengan perjalanan lintas kota melalui Begundal Rupa Street Art Tour 2015, yang semakin memperluas cara pandangnya terhadap kondisi seni di luar Padangpanjang dan mendorong pertanyaan yang lebih besar: jika ruang dan infrastruktur seni terbatas, bagaimana seniman menciptakan kemungkinan dari keterbatasan tersebut?

Begundal Rupa Street Art Tour — 12 Kota, 2015
gambar di atas merupakan stiker perjalanan Begundal Rupa Street Art Tour pada tahun 2015, sebuah perjalanan menyusuri sekitar dua belas kota untuk memperluas pertemanan dan membaca ekosistem street art di luar Sumatera Barat. Perjalanan ini berawal dari jaringan pertemanan yang sebelumnya telah terbentuk di lingkungan street art Sumatera Barat. Bagi Begundal Rupa, pertemanan menjadi cara untuk membuka jalan dari satu kota menuju kota berikutnya. Tidak ada sistem perjalanan yang formal, satu teman memberikan kontak kepada teman yang lain, kemudian jaringan tersebut berlanjut seperti estafet.

Dokumentasi dari Arsip Mardi Al Anhar, 2015

Dari Jambi, kami mendapatkan kontak teman-teman street art di Palembang, di antaranya NCS, SKAE, dan teman-temannya. Sebelum berangkat, kami dibekali beras, Indomie, dan berbagai kebutuhan perjalanan. Dengan bekal tersebut kami melanjutkan perjalanan menuju Palembang menggunakan truk, sekitar delapan jam perjalanan.
Sesampainya di Palembang, kami menghubungi NCS dan dijemput di sekitar Pertamina, tempat kami turun dari truk. Kami kemudian diajak menggambar dan nongkrong di lingkungan kampus UIGM Palembang. Dari pertemuan tersebut kami mendapatkan informasi mengenai ekosistem graffiti yang lebih besar di Jakarta, terutama Gardu House.
Dari Palembang perjalanan kembali dilanjutkan menggunakan truk menuju Lampung dan kemudian Jakarta. Perjalanan dengan truk menjadi salah satu pengalaman yang sampai sekarang paling kami kenang. Kami tidak mendapatkan jaringan street art di Lampung, tetapi perjalanan tetap berlanjut karena seorang sopir truk membawa kami sampai Jakarta. Sopir tersebut merupakan mantan narapidana yang telah bertobat. Ia memahami perjalanan kami dan bersedia membantu tanpa banyak pertanyaan. Dalam perjalanan, kami makan bersama, mendapatkan rokok, dan mendapatkan tumpangan sampai Jakarta. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan ini tidak hanya mempertemukan kami dengan komunitas seni, tetapi juga dengan orang-orang yang sama sekali berada di luar ekosistem seni.
Sesampainya di Jakarta, kami langsung menuju Gardu House. Apa yang sebelumnya hanya kami dengar dari teman-teman di Palembang ternyata benar-benar kami temukan. Para seniman graffiti Jakarta berkumpul di sana dan membangun sebuah ekosistem yang jauh lebih besar dari yang pernah kami lihat sebelumnya. Kami bertemu dengan Bujangan Urban, Tuyuloveme, Ones, dan banyak seniman lainnya.

Dokumentasi dari Arsip Mardi Al Anhar, 2015


Dokumentasi dari Arsip Mardi Al Anhar, 2015

Dari Jakarta kami melanjutkan perjalanan menuju Bandung. Di kota ini kami tidak memiliki jaringan yang dapat menerima atau menjemput kami. Kami menjalankan perjalanan secara mandiri dan melakukan street art dengan cara kami sendiri. Pengalaman tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan: tidak setiap kota memiliki jaringan yang dapat kami akses, sehingga kami harus mencari jalan sendiri.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Yogyakarta. Situasinya kembali berbeda. Street art terlihat sangat masif di jalanan. Kami melihat bagaimana karya-karya di ruang publik dapat muncul dan hilang dengan sangat cepat. Pada beberapa titik yang menjadi pusat aktivitas, sebuah karya tidak memiliki umur yang panjang karena segera tertutup atau digantikan oleh karya lain. Bagi kami, pengalaman ini sangat menarik karena memperlihatkan bahwa kehidupan street art di jalan memiliki ritmenya sendiri.
Di Yogyakarta kami bertemu dengan Geneng Street Art, Anagard, Anti Tank, Setsu, Alex TMT, dan banyak teman lainnya. Kami juga mempresentasikan perjalanan Street Art Tour ini di Forum ISI Yogyakarta, sebuah forum mahasiswa ISI Yogyakarta asal Sumatera Barat. Selama kurang lebih dua minggu kami tinggal di Yogyakarta. Selain berinteraksi dengan jaringan street art, kami mengunjungi galeri, studio seniman, dan berbagai ruang seni. Pada titik ini perjalanan kami mulai berkembang menjadi pengalaman yang lebih luas dalam membaca kehidupan seni di sebuah kota.
Dari Yogyakarta kami melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api menuju Solo. Sebelumnya kami telah mendapatkan kontak dari Alex TMT, yaitu Wahyu, mahasiswa ISI Surakarta yang bersama teman-temannya menggagas Ruang Atas, sebuah ruang alternatif. Praktik seni mereka banyak bersinggungan dengan mural dan street art. Di Solo kami bertemu dengan Acin, Ganang, Tase, dan teman-teman lainnya. Kembali kami menemukan cara yang berbeda dalam membangun ruang dan komunitas seni.
Dari Solo perjalanan berlanjut menuju Surabaya dan kemudian Bali. Di Surabaya kami menuju lingkungan kampus STKW Surabaya. Di Bali, jaringan yang kami dapatkan justru bukan seorang street artist. Kami diperkenalkan kepada seorang mahasiswa ISI Bali yang juga bekerja sebagai tattoo artist. Meskipun berbeda bidang, ia menerima dan menjamu kami dengan sangat baik.
Bahkan bagi mereka, kedatangan kami di Bali memiliki arti tersendiri. Karena Bali merupakan titik terakhir perjalanan, mereka merasa bahwa setelah menempuh perjalanan begitu jauh, kami layak untuk dijamu. Jamuan tersebut menjadi penutup yang sangat berkesan dari perjalanan panjang yang sejak awal dibangun melalui pertemanan.
Setiap kota dalam perjalanan ini memberikan pengalaman yang berbeda. Ada kota yang memiliki ekosistem street art yang besar, ada yang memiliki ruang alternatif, ada yang memiliki jaringan yang kuat, dan ada pula yang harus kami lalui tanpa mengenal siapa pun. Namun justru perbedaan tersebut yang menjadi pengetahuan paling penting bagi kami.

Dokumentasi dari Arsip Mardi Al Anhar, 2015
Street Art Tour 2015 bukan hanya perjalanan untuk membuat karya di kota-kota lain. Perjalanan ini menjadi cara Begundal Rupa menyusuri ekosistem street art yang lebih luas melalui jaringan pertemanan. Kami melihat bagaimana seniman hidup, berkumpul, membuat karya, membangun ruang, menerima orang lain, dan menciptakan jaringan mereka sendiri.

Dokumentasi dari Arsip Mardi Al Anhar, 2015
Pengalaman inilah yang kemudian menjadi salah satu titik penting dalam perkembangan praktik Mardi. Setelah menyusuri berbagai ruang dan ekosistem di luar Sumatera Barat, muncul kesadaran bahwa keterbatasan di kota asal tidak harus menjadi alasan untuk berhenti. Jika ruang tidak tersedia, maka ruang dapat diciptakan dari apa yang ada. Pemikiran tersebut kemudian berlanjut pada eksperimen berikutnya: menjadikan Kamar Kost sebagai laboratorium, studio, ruang pertemuan, dan galeri alternatif.


Street Art Tour 2015
Perjalanan ini mengajarkan bahwa dalam berkesenian, kita tidak selalu membutuhkan jalan yang sudah tersedia, terkadang perjalanan itu sendiri adalah cara untuk menemukan jalan.
Street Art Tour 2015 menjadi pengalaman penting bagi Mardi Al Anhar untuk memahami bahwa seni tumbuh bukan hanya dari ruang yang tersedia, tetapi dari keberanian untuk bergerak, bertemu, berbagi, dan menciptakan ruang bersama. Karena ketika tidak ada tempat untuk berkarya, jangan menunggu tempat itu datang, berangkatlah, temukan orang-orangnya, dan ciptakan ruangmu sendiri.