DXX Street Label
Sebuah nama, sebuah permainan, sebuah cara untuk hadir di jalanan
Sebelum menjadi DXX Street Label, semuanya bermula dari sebuah inisial: DXX.
Dokumentasi
dari arsip Mardi Al Anhar,2015. Karya
ini dibuat di Padang panjang
DXX adalah bentuk singkat dari D. Nama yang pada awalnya hanya digunakan sebagai tag di jalanan. Tidak ada manifesto besar di belakangnya. Tidak ada strategi branding yang terlalu serius. Hanya sebuah nama yang perlu ditinggalkan di ruang publik—seperti pemain skateboard yang meninggalkan jejak roda di aspal, atau pemain game yang memilih karakter dan kemudian membawanya ke dalam permainan.
Saya mengenal street art melalui skateboard.
Dari sana saya semakin dekat dengan sebuah subkultur yang pada waktu itu terasa sangat berbeda dari dunia seni yang saya kenal di kampus. Jalanan mempunyai aturan sendiri. Ada kecepatan, keberanian, risiko, gaya, nama, simbol, karakter, dan tentu saja kemungkinan untuk ditangkap.
Street art terasa seperti permainan.
Kita membuat
nama.
Mencari ikon.
Membangun karakter.
Memilih
wilayah.
Membaca situasi.
Lalu meninggalkan sesuatu di
ruang publik.
Saya menyukai permainan itu.
Lebih
dari sekadar menggambar, street art menawarkan kebebasan berekspresi
anak muda, lifestyle, humor, identitas, sekaligus perlawanan. Ia
dekat dengan desain, ilustrasi, branding, musik, skateboard dan
berbagai bentuk budaya jalanan yang sedang tumbuh di sekitar saya.
Dokumentasi dari arsip Mardi Al Anhar,2015. Karya ini dibuat di Padang
Di Sumatera Barat pada masa itu, apresiasi terhadap seni rupa masih terasa terbatas. Jika seni rupa saja belum selalu mendapatkan tempat yang nyaman, street art tentu memiliki posisi yang lebih rumit. Ia hadir tanpa undangan, mengambil ruang tanpa meminta panggung, dan sering kali dianggap mengganggu ketertiban.
Justru di situlah saya merasa tertantang.
D
okumentasi
dari arsip Mardi Al Anhar,2015. Karya
ini dibuat di Padang
THE POINT OF ART
Salah satu pengalaman yang paling saya ingat terjadi di depan rumah sendiri.
Sebuah truk bahan mentah parkir berhari-hari di sana. Saya mengenal pemiliknya, tetapi tidak pernah ada izin untuk menjadikan jalan depan rumah sebagai tempat parkir selama itu.
Pada suatu malam saya melakukan apa yang biasa dilakukan seorang street artist muda: nge-boom.
Saya menggambar sebuah tangan yang memegang pistol, disertai tulisan:
THE POINT OF ART.
Keesokan paginya gang rumah berubah menjadi arena investigasi kecil.
Tidak ada yang melihat siapa pelakunya.
Tetapi ada satu fakta yang membuat saya menjadi tersangka paling masuk akal: saya adalah mahasiswa seni satu-satunya di kampung itu.
Saya diinterogasi. Dituduh. Dicurigai.
Tidak ada saksi.
Dan di situlah saya menyadari bahwa salah satu bagian paling menyenangkan dari street art bukan hanya membuat gambar, tetapi juga permainan antara kehadiran dan ketidakhadiran.
Kecepatan tangan menjadi penting.
Semakin cepat menggambar, semakin kecil kemungkinan terlihat.
Jalanan mengajarkan saya sesuatu yang tidak selalu bisa diberikan oleh ruang kelas: membaca situasi, mengambil keputusan dalam hitungan detik, memahami ruang, dan bertanggung jawab terhadap konsekuensi dari tindakan sendiri.
DXX mulai menemukan permainannya.
TIGA HALTE DALAM SATU MALAM
Ketika Trans Padang mulai menggantikan keberadaan bus kota, halte-haltenya menarik perhatian saya.
Saya melihat halte bukan hanya sebagai fasilitas transportasi, tetapi sebagai objek baru yang muncul di lanskap kota.
Maka suatu malam saya menggambar tiga halte.
Satu malam.
Beberapa hari kemudian seorang teman berkata:
“Kamu dicari Dishub.”
Saya tidak tahu apakah harus takut atau bangga.
Tetapi dari peristiwa itu, sesuatu mulai berubah. Nama DXX mulai diketahui.
Dokumentasi
dari arsip Mardi Al Anhar,. Karya
ini dibuat di Padang
Saya kemudian diundang mengikuti Paint Your City #1, sebuah jamming yang mempertemukan praktisi street art di Kota Padang.
Sebelumnya saya hanya mengenal karya-karya mereka.
Saya tahu tag mereka.
Saya tahu gambar mereka.
Tetapi saya tidak selalu tahu siapa orang di balik nama tersebut.
Di jamming itulah saya mulai menemukan bahwa street art bukan hanya kumpulan gambar di dinding. Ia adalah ekosistem.
Ada
pertemanan.
Ada persaingan.
Ada gaya.
Ada humor.
Ada
jaringan.
Ada solidaritas.
Dan yang paling penting: ada penerimaan.
Salah satu orang yang kemudian cukup berpengaruh dalam perjalanan DXX adalah teman SMP saya dengan tag ZEEK.
Dari
sinilah DXX mulai mendapatkan ruang yang sebelumnya tidak saya
bayangkan.
Dokumentasi
dari arsip Mardi Al Anhar,. Karya
ini dibuat di Padang
Dokumentasi
dari Arsip Mardi Al Anhar, gambar
di Silaiang.
Dokumentasi
dari Arsip Mardi Al Anhar, Paint
Your City#1, 2014.
DARI MODAL SENDIRI MENJADI PROFESI
Awalnya saya membuat street art dengan modal sendiri.
Kemudian datang sebuah tawaran.
Sebuah kafe milik teman ingin digambar dengan karakter DXX.
Lalu teman dari teman.
Kemudian tawaran lain.
Jamming.
Pameran.
Live mural.
Event musik.
Kafe.
Ruang publik.
Perlahan street art tidak lagi hanya menjadi aktivitas yang saya biayai sendiri. Ia mulai menghasilkan sesuatu.
Bukan hanya uang.
Tetapi pengakuan.
Saya mulai memahami bahwa sebuah nama yang sebelumnya hanya saya tulis di jalan ternyata bisa menjadi identitas yang dikenali orang.
DXX mulai memiliki kehidupan sendiri.
Karya-karyanya muncul semakin banyak. Di jalanan Padang, di luar kota, bahkan sampai pada kapal-kapal nelayan.
Pada satu titik, hampir setiap sudut terasa memiliki kemungkinan untuk menjadi tempat DXX meninggalkan jejak.
Bersamaan dengan itu, saya juga aktif dalam berbagai aktivitas pameran bersama TERAS, serta pameran tunggal di Kamarkost.
Saya membuat merchandise DXX untuk dijual kepada teman dan lingkungan kampus.
Baju, stiker, tote bag dan berbagai bentuk produksi visual mulai membentuk dunia kecil bernama DXX.
Tetapi yang paling membahagiakan bukan ketika DXX menjadi terkenal di Padang.
Yang membahagiakan adalah ketika DXX diterima.
Ada perasaan bahwa keberadaan saya mempunyai arti di dalam sebuah ekosistem.
DISKRIMINASI NOT GOOD
Discrimination
Not Good.
Join to Piss.
Flower Pisstol.
Money
Not God.
Kalimat-kalimat itu tidak saya maksudkan sebagai slogan yang harus dipercaya secara harfiah.
Ia adalah bahasa sebuah masa.
Bahasa anak muda yang sedang mencoba menemukan tempatnya.
Bahasa yang lahir dari jalanan, pertemanan, keresahan, humor, dan keinginan untuk mengganggu sedikit kenyamanan yang sudah terlalu mapan.
Yang menarik, semakin DXX berkembang, semakin banyak pula nama baru bermunculan dalam ekosistem seni dan street art Kota Padang.
Saya tidak merasa sedang menjadi bintang.
Saya merasa sedang menjadi bagian dari itu.
Dan bagi saya, itu jauh lebih penting.
Dokumentasi dari
Arsip Mardi Al Anhar, foto
Bersama OHD dan Buk Melani di Ladang Rupa Bukittinggi, 2018.
Dokumentasi dari Arsip Mardi Al Anhar, foto acara Minang Young Artis Project di Tambud Padang, 2017.
DXX STREET LABEL
Ketika tiba waktunya menyelesaikan studi di Jurusan DKV ISI Padangpanjang, saya mulai melihat semua aktivitas tersebut dari jarak yang berbeda.
Apa yang selama ini saya lakukan di jalan ternyata telah menjadi semacam investasi pengetahuan.
Saya tidak hanya belajar menggambar.
Saya belajar tentang identitas.
Tentang branding.
Tentang karakter.
Tentang komunikasi visual.
Tentang audiens.
Tentang ruang publik.
Tentang jaringan.
Tentang bagaimana sebuah nama dapat bergerak dari satu orang ke orang lain.
Maka ketika mengajukan Tugas Akhir, saya membawa pengalaman tersebut ke dalam sebuah proyek Brand Activation bernama:
DXX STREET LABEL
Nama DXX yang selama bertahun-tahun hanya muncul sebagai tag di jalanan kemudian memperoleh bentuk formal sebagai sebuah brand.
Menariknya, DXX Street Label sebenarnya adalah nama formalnya.
Di jalanan, yang tetap muncul hanyalah:
DXX.
Karena jalanan tidak membutuhkan nama lengkap.
Sebuah tag harus
singkat.
Cepat.
Mudah dikenali.
Mudah diingat.
Di kampus saya mempertanggungjawabkannya sebagai proyek akademik. Di jalanan, ia tetap menjadi DXX.
Dua
dunia tersebut bertemu.
Dokumentasi arsip Mardi Al Anhar, Paint Your City #3 Padang, 2016.
KETIKA BRAND MULAI TERASA SEMPIT
Namun justru ketika DXX semakin aktif, sebuah persoalan mulai muncul.
Saya mulai merasa tidak puas.
Bukan karena street art tidak menarik.
Justru karena saya terlalu mencintainya.
Saya mulai menyadari bahwa ketika sebuah identitas visual menjadi terlalu kuat, ia dapat berubah menjadi batas.
Dokumentasi
Arsip Mardi Al Anhar, Brand
Activation Dxx Street Label di Kamarkost, 2018.
D
okumentasi
Arsip Mardi Al Anhar, BadRoom
in the visual Psycho Therapy,2018.
Orang mulai mengenal DXX melalui bentuk tertentu.
Karakter tertentu.
Gaya tertentu.
Warna tertentu.
Cara tertentu.
Dan saya mulai bertanya:
Apakah saya masih membuat karya, atau saya sedang menjaga citra DXX?
Pertanyaan itu tidak langsung terjawab.
DXX terus bergerak.
Saya mencoba memperluas praktiknya melalui mural, video mapping, instalasi video dan berbagai eksperimen lain.
Tetapi rasa jenuh itu tetap ada.
Ia seperti suara kecil yang terus mengikuti dari belakang.
Saya mulai haus pada sesuatu yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan membuat gambar yang lebih bagus.
CRAZYDOCTOR
Dari kegelisahan itu lahir sebuah strategi kreatif bernama Crazydoctor.
adalah gagasan visual psiko terapi sebagai karya konseptual dimana dialog dan ruang sebagai medium.
Jika DXX selama ini membangun identitas melalui visual, maka Crazydoctor menjadi semacam usaha untuk membongkar identitas tersebut dari dalam.
Saya mulai melihat brand bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, tetapi sesuatu yang juga bisa dibedah, dimainkan, bahkan dihancurkan.
Tugas Akhir selesai.
Wisuda berlangsung.
Tetapi perjalanan DXX belum benar-benar selesai.
Justru persoalan yang lebih besar sedang menunggu.
SEBUAH DINDING DAN LEDAKAN
Pada suatu kesempatan saya diundang ke sebuah kampus sebagai praktisi dan pemateri dalam kegiatan mural.
Saya datang sebagai tamu.
Dinding sudah disediakan.
Saya sedang bekerja ketika tiba-tiba seseorang menarik baju saya dari belakang sambil berteriak:
“Ngapain kamu menggambar di sini?”
Saya terkejut.
Situasi berubah.
Saya membanting besi yang ada di dekat saya dan berteriak:
“Jangan ganggu saya. Kalau urusan dinding ini, silakan tanyakan kepada mahasiswa Anda.”
Belakangan saya mengetahui bahwa orang yang menarik baju saya adalah dosen seni rupa di kampus tersebut.
Bagi saya, persoalannya bukan sekadar salah komunikasi.
Saya bisa menerima konflik semacam itu terjadi di jalanan.
Tetapi saya datang sebagai seniman yang diundang ke sebuah kegiatan seni.
Situasi kemudian berkembang.
Ada pihak yang mencoba membingkai kejadian tersebut seolah-olah DXX telah bertindak semena-mena, bahkan muncul tuduhan bahwa saya menggambar tanpa izin pada patung kuda yang dianggap memiliki simbol penting bagi jurusan.
Yang terjadi kemudian bukan lagi sekadar persoalan dinding.
Sebuah konflik kecil berubah menjadi pertunjukan.
Saya berada di depan mahasiswa dan dosen.
Tubuh menjadi alat bicara.
Suara menjadi material.
Emosi menjadi gestur.
Saya berorasi.
Bunyi-bunyian muncul.
Dan satu kalimat yang keluar dalam situasi yang nyaris menjadi pengeroyokan:
“Jika cintaku dianggap petaka, maka aku akan bergelegar. Maju tak gentar.”
Hari itu saya kembali melihat sesuatu yang sebenarnya sudah lama saya rasakan:
tubuh, ruang dan waktu bisa menjadi medium.
DXX IS DEAD
Tetapi DXX tidak mati karena konflik tersebut.
Rumor kemudian beredar bahwa DXX is Dead adalah bentuk pelarian dari masalah dengan kampus waktu itu atau ekosistem seni yang kecewa dengan Dxx.
Tidak sesederhana itu.
Bahkan sebelum Tembang Kenangan #1, DXX telah mengalami pertemuan-pertemuan baru.
Dalam program residensi Kamarkost kuliahlibur #1, DXX sudah bersanding dengan Alien Pang dari Jakarta.
Ada jarak yang mulai terbentuk.
Bukan jarak geografis.
Tetapi jarak terhadap identitas lama.
Saya mulai memahami bahwa DXX telah melakukan tugasnya.
Ia telah membawa saya ke jalanan.
Memperkenalkan saya kepada banyak orang.
Memberi saya keberanian.
Mengajarkan saya tentang ruang publik.
Membuat saya mengenal komunitas.
Memberi saya pengalaman tentang konflik, penerimaan, produksi, branding, dan bagaimana sebuah nama dapat hidup di luar tubuh orang yang membuatnya.
Lalu tiba waktunya untuk melepaskannya.
Dalam Tembang Kenangan #1 (program kamarkost), bersama Ridwan Raurau dari Bekasi dan Badman107, yang juga membawa fase peralihan dari Begundal Rupa Crew menuju bentuk pemikiran yang lebih dewasa, DXX melakukan sebuah tindakan yang mungkin paling penting dalam sejarahnya:
DXX mati.
Dalam performance tersebut, kematian bukan sekadar akhir.
Ia adalah bunuh diri simbolik terhadap sebuah identitas visual.
Kemudian lahirlah Crazydoctor.
Sebuah reinkarnasi.
Bukan DXX yang berganti nama, tetapi sebuah cara berpikir yang mulai bergeser.
SETELAH DXX
Kematian DXX tidak berarti saya meninggalkan jalanan.
Juga bukan berarti saya berhenti membuat gambar.
Yang berubah adalah pertanyaannya.
Dulu saya bertanya:
Apa yang bisa saya gambar di ruang ini?
Kemudian yang saya inginkan adalah sebuah pernyataan
saya membunuh sebuah identitas karena saya mulai membutuhkan ruang untuk berpikir di luar identitas itu.
Dulu saya mengejar bentuk.
Kemudian saya mulai mengejar pengalaman.
Dulu saya meninggalkan gambar di dinding.
Kemudian saya mulai memperhatikan hubungan antara tubuh, ruang dan waktu.
Dulu saya membangun karakter.
Kemudian saya mulai mempertanyakan siapa sebenarnya yang sedang memainkan karakter tersebut.
Di titik inilah perjalanan dari street art menuju praktik seni konseptual mulai terbentuk.
DXX tidak hilang.
Ia menjadi lapisan pengetahuan.
Kecepatan menggambar di jalanan berubah menjadi kepekaan terhadap waktu.
Keberanian memasuki ruang publik berubah menjadi keberanian mempertanyakan ruang.
Kebiasaan membaca situasi berubah menjadi metode observasi.
Pertemanan di jalanan berubah menjadi pemahaman tentang relasi sosial.
Brand berubah menjadi identitas yang dapat dibongkar.
Dan konflik berubah menjadi pengalaman tentang tubuh sebagai medium.
DXX SEBAGAI ARSIP
Hari ini, ketika melihat kembali DXX Street Label, saya tidak melihatnya sebagai masa lalu yang harus disembunyikan.
Saya melihatnya sebagai sebuah laboratorium awal.
Di sanalah banyak hal pertama kali diuji.
Bagaimana sebuah nama bekerja.
Bagaimana sebuah simbol dikenali.
Bagaimana karya berhadapan dengan publik.
Bagaimana sebuah tindakan menghasilkan konsekuensi.
Bagaimana komunitas menerima seseorang.
Bagaimana sebuah identitas dapat memberi kekuatan sekaligus menjadi batas.
Dan bagaimana seorang seniman akhirnya harus berani membunuh identitas yang pernah membesarkannya.
Karena itu, DXX Street Label bukan sekadar brand activation untuk memenuhi Tugas Akhir.
Ia adalah bentuk formal dari sesuatu yang sebenarnya telah hidup lebih dulu di jalanan.
Sebuah nama yang lahir dari permainan.
Tumbuh dari pertemanan.
Dibesarkan oleh ruang publik.
Mendapatkan pengakuan dari komunitas.
Dipertanyakan oleh institusi.
Kemudian akhirnya dibunuh oleh penciptanya sendiri.
Bukan karena DXX gagal.
Tetapi karena DXX berhasil mengantarkan saya sejauh yang ia mampu.
Dan mungkin, sebuah identitas memang memiliki kehidupan yang demikian.
Ia lahir.
Ia tumbuh.
Ia menjadi dikenal.
Ia menjadi beban.
Lalu suatu hari harus mati agar sesuatu yang lain dapat lahir.
DXX is dead.
Tetapi pengalaman yang dibawanya tidak pernah mati.
Ia tetap bekerja di dalam praktik saya sampai hari ini.