← KEMBALI KE ARSIP
TERAS · 2012–2018

Kerja Individu dalam Praktik Kolektif

Bagi Mardi Al Anhar, praktik kesenian sebagai individu tidak pernah sepenuhnya berdiri sendiri. Sejak awal proses berkesenian, kerja individual tumbuh dan berkembang melalui pengalaman kolektif, percakapan, pertemuan, serta berbagai bentuk kerja bersama. Sekitar tahun 2012, ketika masih menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia Padangpanjang, Mardi bersama sejumlah senior dan teman seangkatan mulai membangun sebuah lingkungan pergaulan yang berangkat dari tongkrongan dan percakapan sehari-hari di sekitar kampus. Dari pertemuan yang pada awalnya sederhana tersebut muncul kesadaran bahwa kehidupan seni tidak harus berhenti di ruang-ruang akademik dan institusional.

Kesamaan kegelisahan kemudian mendorong mereka untuk mengontrak sebuah rumah bersama. Rumah tersebut tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi berkembang menjadi ruang bertemu, berdiskusi, bereksperimen, memproduksi gagasan, dan mengorganisasi kegiatan seni. Dari sinilah semangat untuk menciptakan geliat seni di Padangpanjang mulai dibangun secara lebih konkret. Praktik tersebut kemudian berkembang melampaui kota Padangpanjang dan menjangkau berbagai wilayah di Sumatera Barat melalui sejumlah proyek dan jaringan kerja.

Dokumentasi pameran Instalasi “Imagi Terbuang” di Gedung terbengkalai ISI Padangpanjang.(2014)

Dalam proses tersebut lahir Kelompok Seni TERAS (Terminal Seni), sebuah ruang kolektif yang mempertemukan praktisi dari berbagai disiplin, mulai dari seni rupa, teater, musik, karawitan, desain, hingga televisi. Keragaman latar belakang tersebut menjadi penting karena TERAS tidak dibangun berdasarkan satu disiplin atau satu bentuk ekspresi artistik tertentu. Ia lebih merupakan ruang pertemuan berbagai pengetahuan dan praktik yang memungkinkan setiap anggota belajar dari bidang yang berbeda.

Dokumentasi pameran Instalasi “Imagi Terbuang” di Gedung terbengkalai ISI Padangpanjang.(2014)

Dokumentasi pameran Instalasi “Imagi Terbuang” di Gedung terbengkalai ISI Padangpanjang.(2014)

TERAS juga mengembangkan cara kerja yang tidak bergantung pada ruang seni konvensional. Rumah kontrakan, kafe, bar, homestay, hingga ruang publik dapat menjadi tempat berlangsungnya aktivitas kesenian. Ruang-ruang tersebut tidak semata dipandang sebagai lokasi untuk menampilkan karya, tetapi sebagai medan untuk membaca konteks, membangun hubungan dengan orang lain, dan menguji kemungkinan baru dalam praktik seni. Berbagai kegiatan seperti workshop, pameran, diskusi, serta proyek lintas disiplin menjadi bagian dari proses tersebut.

Bagi Mardi, pengalaman bersama TERAS pada periode 2012–2018 merupakan lebih dari sekadar keterlibatan dalam sebuah kelompok seni. TERAS menjadi ruang belajar kedua setelah kampus. Jika kampus memberikan pengetahuan mengenai sejarah, teori, teknik, dan wacana seni dalam kerangka akademik, maka kerja kolektif memberikan pengalaman langsung mengenai bagaimana pengetahuan tersebut berhadapan dengan situasi nyata: bagaimana sebuah proyek dirancang, bagaimana ruang ditemukan dan dinegosiasikan, bagaimana berkomunikasi dengan orang lain, bagaimana membangun jaringan, bagaimana menghadapi keterbatasan sumber daya, hingga bagaimana sebuah gagasan diterjemahkan menjadi tindakan.

Pengalaman tersebut secara perlahan membentuk cara Mardi memahami bahwa praktik seni tidak hanya berlangsung melalui produksi objek atau karya individual. Seni juga dapat hadir sebagai proses membangun hubungan, mengorganisasi pertemuan, merespons ruang, menciptakan situasi, dan memproduksi pengetahuan bersama. Dalam konteks ini, kerja kolektif menjadi bagian penting dalam pembentukan cara berpikir artistiknya.

Dokumentasi pameran #1 “Ritme Art today” di kontrakan TERAS, Padangpanjang.(2013)

Dokumentasi di atas memperlihatkan pembukaan pameran pertama Kelompok Seni TERAS Padangpanjang, “Ritme Art Today”, yang diselenggarakan di sebuah rumah kontrakan pada tahun 2013. Pameran ini memiliki arti penting dalam perjalanan awal kerja kolektif Mardi Al Anhar karena lahir dari sebuah upaya yang sebelumnya belum berhasil diwujudkan.

Pada tahun sebelumnya, kelompok telah memiliki niat untuk menyelenggarakan pameran bersama, namun rencana tersebut belum terlaksana. Pengalaman itu tidak kemudian menghentikan keinginan untuk membangun ruang bersama bagi praktik seni. Pada kesempatan berikutnya, Mardi Al Anhar yang dipercaya sebagai ketua pelaksana berupaya mengorganisasi kembali gagasan tersebut hingga akhirnya terwujud dalam pameran “Ritme Art Today”.

Dokumentasi pameran #1 “Ritme Art today” di kontrakan TERAS, Padangpanjang.(2013)

Pameran ini tidak hanya dimaksudkan sebagai kegiatan menampilkan karya, tetapi juga sebagai upaya untuk membaca dan menghadirkan kembali semangat berkesenian yang sedang berlangsung pada saat itu. Melalui tajuk Ritme Art Today, TERAS mencoba melihat apa yang sedang dikerjakan, dipikirkan, dan dipersoalkan oleh para perupa pada konteks seni di Sumatera Barat. Pameran menjadi semacam ruang untuk mempertemukan berbagai praktik dan melihat kemungkinan perkembangan seni hari ini dari lingkungan mereka sendiri.

Pilihan untuk menyelenggarakan pameran di rumah kontrakan juga memperlihatkan karakter kerja TERAS. Rumah yang semula merupakan ruang domestik dialihfungsikan menjadi ruang pamer, ruang pertemuan, sekaligus ruang produksi pengetahuan. Keterbatasan infrastruktur seni tidak dijadikan alasan untuk menunda praktik, tetapi justru menjadi kondisi yang mendorong kelompok menciptakan ruangnya sendiri.

Dengan demikian, “Ritme Art Today” dapat dilihat sebagai salah satu pengalaman awal yang memperlihatkan bagaimana Mardi mulai belajar bahwa praktik kesenian juga membutuhkan kemampuan untuk mengorganisasi, membangun ruang, mengumpulkan orang, dan menciptakan situasi agar gagasan dapat berlangsung. Rumah kontrakan tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pameran, tetapi menjadi sebuah eksperimen tentang bagaimana ruang sehari-hari dapat berubah menjadi infrastruktur seni.

Pengalaman ini kemudian menjadi bagian dari fondasi kerja Mardi Al Anhar dalam memandang hubungan antara seni, ruang, dan komunitas. Apa yang dimulai melalui sebuah pameran kelompok secara perlahan berkembang menjadi cara kerja yang lebih luas: merespons ruang alternatif, mengintervensi ruang publik, membangun kolektif, menciptakan laboratorium artistik, dan memproduksi pengetahuan melalui pengalaman langsung.

Dalam konteks perjalanan tersebut, Ritme Art Today bukan hanya catatan tentang sebuah pameran pada tahun 2013. Ia merupakan salah satu titik awal ketika Mardi, bersama kolektifnya, mulai mengambil posisi aktif dalam membangun medan seni di sekitarnya—bukan hanya sebagai peserta di dalam ekosistem yang sudah tersedia, tetapi sebagai pihak yang ikut menciptakan ruang, peristiwa, dan kemungkinan bagi kehidupan seni di Sumatera Barat.

Dokumentasi pameran undangan Rumah Ada Seni dengan ForumISI Yogyakarta“ABBA” di kontrakan TERAS, Padang.(2015)

Lintas Pulau: Membaca Ekosistem Seni melalui Pertemuan

Dokumentasi di atas merupakan bagian dari pameran “Lintas Pulau”, sebuah pameran yang digagas oleh Rumah Ada Seni, Padang, bersama Forum ISI Yogyakarta, dan diselenggarakan di Padang. Dalam pameran ini, Kelompok Seni TERAS diundang untuk berpartisipasi sebagai kelompok, membawa praktik kolektif mereka ke dalam pertemuan dengan seniman dan praktik seni dari luar Sumatera Barat.

Keterlibatan TERAS dalam pameran ini menjadi pengalaman penting karena memperluas ruang perjumpaan yang sebelumnya banyak berlangsung di lingkungan lokal. Melalui undangan tersebut, TERAS tidak hanya hadir sebagai individu-individu seniman, tetapi sebagai sebuah kolektif dengan pengalaman dan cara kerja yang telah mereka bangun bersama. Karya instalasi dan performance art yang dihadirkan memperlihatkan karakter kerja yang terbuka terhadap eksperimentasi lintas medium dan kemungkinan penggunaan ruang.

Bagi Mardi Al Anhar, pengalaman dalam Lintas Pulau menjadi salah satu kesempatan untuk melihat praktik kesenian dari perspektif yang lebih luas. Pertemuan antara kelompok seni lokal dengan jejaring dari Yogyakarta membuka ruang untuk membaca perbedaan cara kerja, gagasan, jaringan, serta kondisi ekosistem seni yang berkembang di masing-masing wilayah.

Pameran ini dengan demikian tidak hanya berfungsi sebagai ruang presentasi karya. Ia menjadi ruang terbuka untuk mengamati bagaimana ekosistem seni bekerja: bagaimana kelompok terbentuk, bagaimana seniman membangun jaringan, bagaimana gagasan berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain, serta bagaimana praktik seni dapat mempertemukan pengalaman lokal dengan wacana dan praktik yang lebih luas.

Keterlibatan TERAS dalam Lintas Pulau juga memperlihatkan bahwa kerja kolektif yang dibangun dari ruang-ruang alternatif di Padangpanjang mulai memasuki jaringan perjumpaan yang lebih luas. Pengalaman tersebut memperkuat kesadaran Mardi bahwa praktik seni tidak hanya ditentukan oleh keberadaan institusi atau galeri, tetapi juga oleh hubungan antarkomunitas, mobilitas seniman, ruang alternatif, dan inisiatif yang memungkinkan terjadinya pertukaran pengetahuan.

Dalam perjalanan Mardi Al Anhar, Lintas Pulau menjadi bagian dari proses penting untuk melihat medan seni dari luar dirinya sendiri. Jika pengalaman di TERAS sebelumnya banyak berangkat dari kebutuhan untuk menciptakan ruang di tengah keterbatasan lokal, maka pertemuan lintas wilayah seperti ini memberikan kesempatan untuk membandingkan, mempertanyakan, dan membaca kembali posisi praktik seni yang sedang dibangun di Sumatera Barat.

Karena itu, dokumentasi ini tidak hanya merekam kehadiran TERAS dalam sebuah pameran, tetapi juga merekam sebuah fase ketika kerja kolektif mulai berfungsi sebagai alat untuk membaca ekosistem seni, membangun jaringan, dan memperluas perspektif artistik melalui perjumpaan lintas wilayah.

Dokumentasi pameran “Dark side” di batandarrow Bar, Padang.(2015)

Dari Ruang Intim ke Ruang Publik

Pengalaman kerja kolektif bersama TERAS kemudian berkembang dari penggunaan ruang alternatif yang intim menuju ruang publik yang lebih terbuka dan kompleks. Jika pada tahap awal rumah kontrakan menjadi tempat untuk berkumpul, memproduksi karya, berdiskusi, dan menyelenggarakan pameran, maka pada tahap berikutnya praktik tersebut mulai bergerak memasuki ruang-ruang publik seperti kafe, bar, dan berbagai ruang sosial lainnya.

Perubahan ruang ini turut mengubah skala dan karakter kegiatan. Bersama Kelompok Seni TERAS, Mardi Al Anhar terlibat dalam berbagai perhelatan yang tidak lagi terbatas pada format pameran konvensional. Pameran dapat berlangsung bersamaan dengan pertunjukan, performance, musik, penjualan merchandise, hingga street art jamming. Berbagai bentuk tersebut berlangsung dalam satu peristiwa dan mempertemukan seniman, musisi, komunitas, pengunjung, serta publik dalam situasi yang lebih cair.

Bagi Mardi, pengalaman ini menjadi penting karena memperlihatkan bahwa sebuah perhelatan seni dapat bekerja sebagai ruang sosial, bukan sekadar ruang untuk memajang karya. Karya, pertunjukan, musik, interaksi, dan aktivitas ekonomi kreatif dapat hadir bersamaan dan membentuk pengalaman yang lebih kompleks bagi publik.

Perpindahan dari rumah kontrakan menuju bar dan ruang publik juga memperluas pemahaman Mardi mengenai bagaimana seni berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Jika rumah kontrakan menjadi laboratorium awal untuk membangun ruang seni secara mandiri, maka ruang publik menjadi medan yang lebih terbuka untuk menguji bagaimana praktik seni berinteraksi dengan orang-orang yang tidak selalu datang dengan ekspektasi untuk melihat karya seni.

Dokumentasi pameran “Dark side” di batandarrow Bar, Padang.(2015)

Dalam konteks ini, keterlibatan Mardi bersama TERAS bukan hanya memperluas bentuk kegiatan, tetapi juga memperluas cara memandang audiens. Publik tidak selalu ditempatkan sebagai penonton yang datang untuk melihat karya, melainkan dapat menjadi bagian dari situasi yang terbentuk melalui pertemuan, musik, pertunjukan, percakapan, aktivitas jalanan, hingga transaksi merchandise.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam perkembangan praktik Mardi Al Anhar. Ia belajar bahwa ruang dan format bukan sesuatu yang netral; perubahan ruang dapat membuka kemungkinan baru bagi cara karya hadir, bagaimana orang berinteraksi, dan bagaimana sebuah ekosistem seni dapat terbentuk.

Dari rumah kontrakan hingga bar dan ruang publik, perjalanan bersama TERAS memperlihatkan perluasan medan kerja: dari ruang intim menuju ruang sosial, dari pameran menuju perhelatan, dan dari karya sebagai objek menuju seni sebagai pengalaman bersama. Pengalaman inilah yang kemudian menjadi bagian dari cara Mardi membaca ruang, publik, kolektivitas, dan kemungkinan-kemungkinan praktik seni di luar institusi formal.

Dokumentasi pameran “Di ateh Awan” di lawing park, Padang.(2015)

TERAS juga menjadi salah satu titik awal bagi Mardi untuk memetakan medan seni di luar lingkungan kampus. Melalui berbagai kegiatan dan perjumpaan, ia mulai mengenali seniman, komunitas, ruang alternatif, praktik lintas disiplin, serta berbagai kemungkinan kerja yang tidak selalu tersedia dalam struktur akademik. Pengalaman tersebut memperluas pemahamannya mengenai ekosistem seni: bahwa perkembangan praktik kesenian juga ditentukan oleh jaringan informal, inisiatif personal, komunitas, ruang-ruang alternatif, dan keberanian untuk menciptakan situasi sendiri.

Dengan demikian, kerja kolektif bukanlah fase yang terpisah dari perjalanan praktik individual Mardi Al Anhar. Justru di dalam kerja kolektif tersebut fondasi praktik individualnya mulai terbentuk. Kolektif menjadi tempat untuk menguji gagasan, mengalami kegagalan, membangun keberanian, mengenali medan, sekaligus memahami posisi diri sebagai seniman.

Poster pameran “Di ateh Awan” di lawing park, Padang.(2015)

Pengalaman di TERAS kemudian menjadi dasar bagi perkembangan praktik Mardi pada periode berikutnya. Ketika kemudian ia bekerja secara lebih mandiri melalui street art, mural, performance, instalasi, video, hingga praktik seni konseptual dan riset, pengalaman kolektif tersebut tetap menjadi bagian dari cara kerjanya. Kecenderungan untuk merespons ruang, membaca lingkungan, membangun relasi, bekerja lintas disiplin, dan melihat seni sebagai proses yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari merupakan sebagian dari nilai yang tumbuh dari pengalaman tersebut.

Karena itu, perjalanan Mardi Al Anhar dari kolektif menuju praktik individual tidak dapat dipahami sebagai perpindahan dari kerja bersama menuju kerja sendiri. Lebih tepat dipahami sebagai proses membawa pengalaman kolektif ke dalam praktik individual. Kerja individu tetap memiliki jejak dari percakapan, jaringan, pengetahuan, dan pengalaman bersama yang membentuknya sejak awal.

TERAS menjadi salah satu pondasi penting dalam perjalanan tersebut: sebuah ruang tempat Mardi pertama kali belajar bahwa menjadi seniman bukan hanya persoalan menghasilkan karya, tetapi juga tentang bagaimana menciptakan ruang bagi gagasan, membangun hubungan dengan orang lain, membaca lingkungan, dan mengambil bagian dalam membentuk kehidupan seni di sekitarnya. Dari pengalaman itulah praktik keseniannya mulai bergerak keluar dari batas-batas kampus dan memasuki medan kesenian yang lebih luas.

Dokumentasi pam Dokumentasi pameran “Di ateh Awan” di lawing park,(2015).

Dokumentasi artist talk di Kampus Institut Seni Indonesia Padangpanjang,(2013).

Keterlibatan Mardi Al Anhar bersama Kelompok Seni TERAS pada 2012–2018 menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan praktik keseniannya. TERAS bukan hanya tempat untuk berkarya bersama, tetapi menjadi ruang belajar kedua setelah kampus—tempat Mardi mengalami secara langsung bagaimana sebuah gagasan dibangun, dinegosiasikan, diproduksi, dipresentasikan, dan dipertemukan dengan publik.

Dari rumah kontrakan, ruang alternatif, bar, hingga ruang publik; dari pameran, workshop, instalasi, performance, hingga street art jamming, pengalaman tersebut membentuk cara Mardi memahami bahwa seni tidak selalu harus menunggu ruang dan infrastruktur yang ideal. Keterbatasan justru dapat menjadi titik berangkat untuk menciptakan kemungkinan baru.

Yang kemudian melekat pada praktik Mardi bukan semata pengalaman menjadi bagian dari sebuah kelompok, melainkan cara berpikir yang lahir dari pengalaman tersebut: menciptakan ruang ketika ruang belum tersedia, membangun peristiwa ketika infrastruktur belum memadai, dan menjadikan pertemuan dengan orang lain sebagai bagian dari proses artistik.

Dengan demikian, kerja bersama TERAS menjadi salah satu titik penting dalam peralihan Mardi dari seorang mahasiswa seni menuju praktik kesenian yang lebih mandiri di luar institusi akademik. Pengalaman kolektif tersebut tidak ditinggalkan ketika praktik individual mulai berkembang, tetapi dibawa sebagai pengetahuan, metode, dan cara membaca medan seni yang kemudian terus muncul dalam berbagai praktik Mardi Al Anhar hingga hari ini.