Pameran Kedua Gallery Kamar/ Kamarkost Creative Home - 2016
Pada tahun 2016, ruang yang sebelumnya diuji melalui pameran tunggal Mardi Al Anhar aka DXX kembali dibuka untuk publik. Jika pada 2014 Gallery Kamar pertama kali diuji sebagai ruang alternatif yang mempertemukan seni dengan lingkungan permukiman, dan pada 2015 energi kolektif tersebut dibawa lebih jauh melalui Street Art Tour ke berbagai kota, maka pada 2016 pengalaman tersebut kembali dirumuskan melalui sebuah pameran bersama bertajuk “Paganagari.”
Pameran ini menjadi bagian dari perkembangan ruang yang kemudian dikenal sebagai Kamarkost Creative Home. Ia bukan sekadar pengulangan pameran sebelumnya, tetapi sebuah upaya untuk mempertegas posisi ruang alternatif yang tumbuh dari lingkungan, pertemanan, komunitas, dan kebutuhan akan ruang seni di daerah.

Dokumentasi dari Arsip Mardi Al Anhar, 2016.
Gagasan Paganagari berangkat dari filosofi yang melekat pada identitas Kamarkost, khususnya simbol kaluak paku yang digunakan sebagai bagian dari identitas ruang. Dalam konteks kebudayaan Minangkabau, paganagari dapat dibaca sebagai gagasan tentang anak muda yang menjadi pagar bagi nagari—mereka yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan kampung, kebudayaan, dan kehidupan bersama.
Dokumentasi dari Arsip Mardi Al Anhar, 2016.

Gagasan ini memiliki hubungan yang menarik dengan tradisi merantau dalam masyarakat Minangkabau. Anak muda didorong untuk pergi, belajar, mencari pengalaman, memperluas jaringan, dan mengenal dunia di luar kampung. Namun, pengalaman merantau tidak harus berarti memutus hubungan dengan nagari. Justru setelah melihat dunia yang lebih luas, muncul kebutuhan untuk kembali membawa pengetahuan, pengalaman, jaringan, dan energi baru ke tempat asal.
Kamarkost mengambil posisi tersebut.
Dokumentasi dari Arsip Mardi Al Anhar, 2016.

Pergi untuk melihat dunia, tetapi tetap memiliki alasan untuk kembali dan menjaga ruang tempat kita tumbuh.
Karena itu, Paganagari tidak dimaksudkan sebagai sikap untuk menutup diri dari perkembangan seni nasional maupun global. Sebaliknya, keterbukaan terhadap ekosistem yang lebih luas merupakan bagian dari proses pembentukan ruang ini. Pengalaman Street Art Tour pada 2015 memperlihatkan bagaimana pertemanan dan jaringan seni dapat bergerak melampaui batas kota dan daerah.
Namun, semakin luas seseorang bergerak, semakin penting pula pertanyaan tentang dari mana ia berangkat dan untuk apa ia kembali.
Dalam konteks itulah Paganagari menjadi sebuah penanda: bahwa medan seni di daerah juga perlu dijaga agar tetap tumbuh.
Dari Ruang Alternatif Menjadi Ruang Publik
Pameran Paganagari memperluas fungsi Kamarkost. Jika sebelumnya Gallery Kamar terutama digunakan untuk menguji kemungkinan rumah sebagai ruang pamer, maka pada 2016 ruang tersebut mulai dibuka lebih jauh sebagai ruang publik alternatif.
Karya seni tidak hanya berhenti di dalam kamar atau ruang tamu. Aktivitas seni bergerak keluar menuju lingkungan sekitar dan berhubungan langsung dengan fasilitas umum (fasum) di kampung.
Perubahan ini penting karena menunjukkan bahwa ruang seni tidak harus memiliki batas fisik yang tegas. Aktivitas kesenian dapat bergerak dari rumah ke halaman, dari halaman ke lingkungan, dari lingkungan ke fasilitas umum, dan kemudian kembali lagi ke ruang kreatif.
Kamarkost menjadi semacam titik temu yang menghubungkan berbagai aktivitas tersebut.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan melibatkan Kelompok Seni TERAS bersama beberapa seniman undangan. Ruang Kamarkost dibuka kepada publik dan menjadi tempat berlangsungnya interaksi antara seniman, anak-anak, pemuda, warga, serta masyarakat sekitar.
Salah satu bentuk kegiatan dilakukan melalui kerja bersama di ruang publik kampung. Pemuda setempat diajak berkolaborasi membuat mural bersama anak-anak. Aktivitas tersebut menggeser posisi mural dari sekadar karya visual di dinding menjadi sebuah kegiatan sosial: proses menggambar menjadi ruang pertemuan lintas generasi, tempat anak-anak, pemuda, dan seniman dapat bekerja dalam satu aktivitas kreatif.
Musik juga menjadi bagian dari pembukaan ruang tersebut. Kehadiran Goodmorning dari Padang Panjang menghadirkan pertunjukan musik langsung dan memperluas karakter pameran menjadi sebuah peristiwa kebudayaan yang tidak hanya berbicara tentang seni rupa.
Dengan demikian, Paganagari tidak diposisikan sebagai pameran dalam pengertian yang sempit. Ia merupakan peristiwa yang menggabungkan pameran, ruang publik, kerja komunitas, mural, musik, dan pertemuan warga.


Dokumentasi dari Arsip Mardi Al Anhar, 2016.
Menjaga Medan Seni di Daerah
Di balik gagasan Paganagari terdapat kegelisahan yang lebih besar mengenai keberlangsungan ekosistem seni di daerah.
Pada satu sisi, seniman membutuhkan jaringan yang lebih luas. Pertukaran dengan seniman dari kota lain, perjalanan, festival, pameran, dan berbagai bentuk perjumpaan nasional maupun internasional penting bagi perkembangan praktik. Namun pada sisi lain, sebuah ekosistem seni tidak akan tumbuh hanya dengan mengirim senimannya keluar.
Ia juga membutuhkan tempat untuk kembali.
Tempat untuk berkumpul.
Tempat untuk mencoba.
Tempat untuk gagal.
Tempat untuk berbicara.
Tempat untuk membuat karya.
Dan yang paling penting, tempat untuk mempertemukan seni dengan kehidupan masyarakatnya sendiri.
Kamarkost berusaha mengambil posisi tersebut.

Dokumentasi dari Arsip Mardi Al Anhar, 2016.
Dalam kerangka Paganagari, ruang alternatif bukan sekadar solusi atas keterbatasan galeri. Ia menjadi bagian dari strategi kebudayaan yang lebih sederhana dan dekat: membangun medan seni dari apa yang tersedia di sekitar.
Rumah menjadi ruang seni.
Pemuda menjadi bagian dari ekosistem.
Anak-anak menjadi peserta.
Fasilitas umum menjadi media.
Dinding kampung menjadi bidang kerja.
Musik menjadi bagian dari pertemuan.
Dan masyarakat menjadi bagian dari peristiwa artistik.
Dengan cara tersebut, seni tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang datang dari luar untuk dipertontonkan kepada masyarakat, tetapi tumbuh bersama masyarakat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.


Dokumentasi dari Arsip Mardi Al Anhar, 2016.

Dokumentasi dari Arsip Mardi Al Anhar, 2016
Paganagari sebagai Sikap
Pameran Paganagari pada 2016 menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan Kamarkost Creative Home. Jika 2014 merupakan tahap pengujian ruang melalui pameran pertama, dan 2015 menjadi momentum memperluas jaringan melalui Street Art Tour, maka Paganagari menjadi fase ketika pengalaman tersebut mulai dirumuskan menjadi sebuah sikap.
Sikap untuk tetap terbuka terhadap dunia, tetapi tidak kehilangan akar.
Sikap untuk merantau, tetapi tidak lupa pulang.
Sikap untuk membangun jaringan keluar, sekaligus membangun ruang di dalam.
Dan sikap untuk percaya bahwa perkembangan seni tidak hanya terjadi di pusat-pusat kebudayaan, tetapi juga dapat tumbuh dari sebuah rumah, sebuah kampung, sebuah kelompok pertemanan, dan sebuah komunitas yang memilih untuk membuka ruangnya kepada publik.

Dokumentasi dari Arsip Mardi Al Anhar, 2016
Dokumentasi dari Arsip Mardi Al Anhar, 2016

Paganagari adalah upaya menjaga agar medan seni tetap hidup di daerah—bukan dengan membangun pagar yang memisahkan diri dari dunia, tetapi dengan menjadi pagar yang menjaga agar dari daerah ini tetap tumbuh sesuatu yang dapat berjalan menuju dunia.
Dari sinilah Kamarkost Creative Home mengambil perannya: bukan sebagai galeri yang menunggu seniman datang, tetapi sebagai ruang yang membuka kemungkinan agar seni dapat tumbuh, bertemu, dan kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.